Artinya mengampuni tanpa batas. 2.Apa alasannya? Karena Allah telah mengampuni kita dengan tanpa batas setiap kita bersalah, sedangkan kita terlalu pelit untuk mengampuni orang lain. Kalau kita pengikut Yesus, maka tidak ada jalan lain kecuali berbuat yang sama seperti Yesus, yaitu mengampuni terus menerus, bahkan tanpa batas.
4 “Barang siapa berjalan untuk shalat wajib dalam keadaan sudah suci (berwudhu di rumah), maka ia seperti mendapatkan pahala orang yang berhaji dan ihram.” (Shahih; HR Ahmad). 5. “Shalat di masjid Quba’ itu seperti umrah.” (Shahih; Shahih
NamunTuhan telah mati ganti kita. Ia menggantikan kita menebus dosa-dosa kita semua. Ia melakukannya secara universal. Tidak ada anak emas atau anak tiri, apalagi anak pungut. Namun tolok ukur di mana apakah kita dapat memperoleh pengampunan itu adalah ketika kita juga mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sebesar apapun
Untukitu apapun yang kita lakukan harus dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT semata, melakukannya dengan cara yang benar sebagaimana yang ditentukan Allah swt dan dicontohkan oleh Rasul-Nya serta tujuannya untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Bila kita beramal shaleh dalam kehidupan ini, maka amal saleh itu menjadi bekal utama dalam
Bagiankita adalah mengakui dosa. Bagian Allah adalah mengampuni kita. Dia adalah setia dan adil dalam melakukannya. John Stott menjelaskan artinya, "Dia setia dalam mengampuni karen a Dia telah berjanji untuk melakukannya, dan adil karena Yesus mati bagi dosa kita." [10] Dia menanggung hukuman kita dan itu memenuhi tuntutan keadilan Allah.
Yangdirindukan Allah supaya dengan tulus kita berusaha menaati dia. Apabila kami kurang dari apa yang diharapkan kami diberi satu janji lagi. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (Injil, Rasul I Yohanes 1:9). Juga baca ayat
. Persiapkan diri Anda secara rohani Apa yang telah Anda pelajari dengan mengampuni orang lain? Dapatkah Anda memikirkan suatu waktu ketika Anda mengampuni seseorang sehingga telah menolong Anda merasakan kedamaian dan kasih? Pengalaman apakah yang para remaja putra miliki di mana mereka perlu mengampuni orang lain? Apa yang perlu mereka pelajari tentang mengampuni diri sendiri? Bagaimana Anda dapat menolong para remaja putra belajar untuk mengampuni supaya mereka dapat menemukan kedamaian? Catatan Jika para remaja putra memiliki pertanyaan tentang pengampunan dalam kasus perundungan, sarankan agar mereka mencari nasihat dari uskup atau presiden cabang mereka. Tulisan suci manakah yang akan menolong para remaja putra mengenali berkat-berkat yang akan datang ke dalam kehidupan mereka sewaktu mereka mengampuni orang lain? Matius 544; A&P 649–11 Kita diperintahkan untuk mengampuni setiap orang Matius 614–15; 1821–35 atau video “Ampuni 70 Kali 7” Untuk menerima pengampunan, kita harus mengampuni orang lain Lukas 2334 Yesus Kristus mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya Kevin R. Duncan, “Balsam Pengampunan yang Menyembuhkan,” Ensign atau Liahona, Mei 2016, 33–35 Gordon B. Hinckley, “Pengampunan,” Ensign atau Liahona, November 2005, 81–84 Dieter F. Uchtdorf, “Yang Penuh Belas Kasihan Mendapatkan Belas Kasihan,” Ensign atau Liahona, Mei 2012, 70–76 Video “Pengampunan Bebanku Dijadikan Ringan” Mengajar dengan cara Juruselamat Dalam setiap situasi, Juruselamat adalah teladan dan mentor bagi para murid-Nya. Dia mengajar mereka untuk berdoa dengan berdoa bersama mereka. Dia mengajar mereka untuk mengasihi dan melayani dengan mengasihi serta melayani mereka. Dia mengajar mereka untuk mengampuni orang lain dengan mengampuni mereka. Bagaimana Anda dapat menjadi teladan dari asas-asas yang Anda ajarkan? Gambar Video “Kita Berbagi” Saksikan lebih banyak lagi Biarkan remaja putra memimpin Seorang anggota presidensi kuorum memimpin pertemuan kuorum. Dia memimpin remaja putra dalam berembuk bersama mengenai urusan kuorum, mengajarkan mereka tugas-tugas keimamatan mereka dari tulisan suci dan buku Tugas kepada Allah, serta meminta seorang pembimbing atau anggota kuorum lainnya untuk mengajarkan sebuah pelajaran Injil. Dia dapat bersiap dengan mengisi agenda pertemuan kuorum selama pertemuan presidensi. Memulai pengalaman belajar Pilihlah dari gagasan berikut atau pikirkanlah gagasan Anda sendiri untuk mengkaji ulang pelajaran minggu lalu dan memperkenalkan pelajaran minggu ini Apa yang para remaja putra ingat dari pelajaran sebelumnya? Apa yang diminta dari mereka untuk mereka lakukan? Pengalaman apa yang mereka miliki dari menerapkan apa yang mereka pelajari? Mintalah para remaja putra untuk memikirkan mengenai saat dimana mereka harus mengampuni seseorang. Undanglah mereka untuk membagikan pengalaman mereka, jika mereka merasa nyaman untuk melakukannya. Apa yang terjadi sebagai hasilnya? Bagaimana hal-hal akan berbeda jika mereka tidak mengampuni? Pelajari bersama Setiap kegiatan di bawah ini dapat menolong para anggota kuorum memahami pentingnya mengampuni orang lain. Dengan mengikuti ilham Roh, pilihlah satu atau lebih yang akan paling baik dilakukan untuk kuorum Anda Bagilah kuorum menjadi kelompok-kelompok, dan ajaklah setiap kelompok untuk membaca pilihan dari ceramah-ceramah yang disediakan dalam garis besar ini atau ceramah lain dari pilihan Anda. Mintalah para remaja putra untuk menandai bagian-bagian dari ceramah itu yang berkesan bagi mereka. Ajaklah mereka untuk membagikan apa yang mereka tandai dan menjelaskan mengapa itu bermakna bagi mereka. Bacalah bersama perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelaskasihan dalam Matius 1823–35 atau tayangkan video “Ampuni 70 Kali 7”, dan bantulah para remaja putra untuk menghitung dan membandingkan utang si hamba dan hamba sesamanya lihat “Weights and Measures” dalam Bible Dictionary. Apa yang para remaja putra pelajari dari perumpamaan ini tentang pengampunan? Ajaklah para remaja putra untuk menemukan dan membagikan tulisan suci lain yang mengajarkan pentingnya mengampuni orang lain seperti tulisan suci yang disarankan dalam garis besar ini. Mintalah remaja putra untuk membandingkan contoh-contoh dalam tulisan suci tentang orang-orang yang mengampuni sesama. Anda dapat mengkaji ulang contoh tentang Yusuf di Mesir lihat Kejadian 451–7, Nefi dan saudara-saudara lelakinya lihat 1 Nefi 721, Yesus Kristus di kayu salib lihat Lukas 2334, atau yang lainnya. Mengapa sangat penting untuk mengampuni anggota keluarga? Tayangkan salah satu video yang disarankan dalam garis besar ini, dan mintalah para remaja putra untuk membagikan kesan mereka. Apa contoh lain tentang pengampunan yang dapat mereka bagikan? Mintalah para remaja putra untuk menemukan sesuatu dalam tulisan suci yang Juruselamat ajarkan tentang mengampuni orang lain dan membagikan apa yang mereka temukan kepada kelas sebagai contoh, lihat Matius 544; 614–15; 1822–23. Mintalah mereka untuk membagikan pengalaman tentang kedamaian yang datang karena mengampuni orang lain. Tulislah pertanyaan-pertanyaan berikut pada slip kertas terpisah, dan serahkan satu lembar kepada setiap anggota kuorum Mengapa kita perlu mengampuni setiap orang, termasuk diri kita sendiri? Mengapa Tuhan adalah satu-satunya yang dapat memutuskan apakah seseorang hendaknya diampuni atau tidak? Mengapa kegagalan mengampuni adalah dosa yang sedemikian besar? Ajaklah masing-masing remaja putra untuk merenungkan pertanyaannya sewaktu dia membaca Ajaran dan Perjanjian 649–11. Kemudian ajaklah para remaja putra untuk membagikan pemikiran dan wawasan mereka. Mintalah para remaja putra untuk membagikan apa yang mereka pelajari hari ini. Apakah mereka memahami pentingnya mengampuni orang lain? Apakah perasaan atau kesan yang mereka miliki? Apakah mereka memiliki pertanyaan tambahan apa pun? Akankah bermanfaat untuk meluangkan lebih banyak waktu tentang ajaran ini? Kiat mengajar “Guru yang berceramah hampir seluruh waktu atau menjawab sendiri setiap pertanyaan cenderung mengecilkan hati pembelajar dari berperan serta” Mengajar, Tiada Pemanggilan yang Lebih Mulia [1999], 64. Mengundang untuk bertindak Anggota presidensi kuorum yang memimpin mengakhiri pertemuan. Dia dapat Mendorong para anggota kuorum untuk memikirkan seseorang yang perlu mereka ampuni dan membuat sebuah janji untuk mengampuni orang tersebut. Undanglah anggota kuorum untuk membagikan apa yang telah mereka pelajari kepada keluarga mereka.
Puji Astuti Official Writer 3156 Kolose 313 "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Bacaan Alkitab Setahun Mazmur 31; 1 Tesalonika 3; Yesaya 15-16 Kita bisa mengampuni karena kita telah diampuni oleh Tuhan. Tuhan menginginkan kita untuk menunjukkan rahmat atau belas kasihan kepada orang lain karena Dia telah menunjukkan rahmat-Nya kepada kita. Dia menunjukkan kasihnya dengan mengirimkan Kristus untuk mati bagi kita, meskipun kita masih memberontak kepadanya Roma 5 8. Namun kita lebih sering menunjukkan sikap egois dan menuntut daripada bersikap ramah dan murah hati kepada sesama. Sebagai contoh saat Anda menunggu di kasir yang Anda anggap bekerja lambat di toko grosir sebagai gangguan daripada sebagai seseorang yang mungkin berjuang untuk mempertahankan pekerjaannya, seseorang yang baru saja mendapat kabar terburuk dalam hidupnya beberapa menit sebelumnya. Anda melihat seseorang dalam keluarga Anda sebagai orang bermasalah daripada melihatnya sebagai seseorang yang sedang berjuang menghadapi keputusasaan dan kebingungan dalam hidupnya. Atau saat Anda melihat orang yang memotong kendaraan Anda di jalan bebas hambatan sebagai penjahat alih-alih seseorang yang membutuhkan kasih Tuhan. Tetapi fakta yang harus sama-sama kita ketahui adalah semua orang membutuhkan kasih Tuhan. Itulah sebabnya Yesus Kristus datang ke dunia ini. Itu sebabnya kita harus menunjukkan kepada orang lain, kasih karunia untuk manjadi mengingat bagi kita apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Cara pamungkas Allah menunjukkan kepada kita anugerah-Nya adalah dengan pengampunan. Dan cara utama Dia meminta kita untuk menunjukkan kasih karunia kepada orang lain juga dengan mengampuni mereka. Orang sering bertanya kepada saya, “Bagaimana saya bisa menemukan kekuatan untuk memaafkan? Saya tidak memilikinya di dalam diri saya. " Yang benar adalah, aku juga tidak memilikinya! Satu-satunya tempat bagi saya untuk menemukan kekuatan untuk mengampuni adalah mengingat betapa Yesus telah mengampuni saya. Melalui pengingat itulah, Dia memberi saya kekuatan dan rahmat untuk memaafkan orang lain. Ada sebuah kisah tentang seorang wanita bernama Clara Barton, yang mendirikan Palang Merah Amerika. Seorang teman mengingatkannya akan hal kejam yang dilakukan seseorang terhadapnya bertahun-tahun sebelumnya. Teman itu bertanya, "Kamu tidak ingat?" Jawabannya yang terkenal adalah, "Tidak, saya ingat dengan jelas telah melupakannya." Apa yang perlu kamu lupakan? Siapa yang perlu Anda maafkan? Jika Anda tidak memaafkan, Anda tidak akan dapat menikmati berkat Tuhan selama sisa hidup Anda karena Anda akan terjebak di masa lalu. Tetapi ketika Anda memaafkan, Anda akan bisa melanjutkan hidup Anda. Pengampunan bukan berarti orang yang melakukan kesalahan pada Anda menjadi benar. Dan itu tidak membuat apa yang dilakukan orang itu baik-baik saja. Anda bisa memaafkan, dan mereka masih bisa menghadapi konsekuensi atas apa yang terjadi. Ketika memaafkan seseorang tampaknya mustahil, ingat satu hal Yesus sudah mengampuni Anda. Kamu sedang dalam pergumulan dan butuh dukungan doa? Klik link dibawah ini untuk terhubung dengan tim doa kami Kamu butuh teman curhat dan membutuhkan pertolongan Tuhan? Klik link dibawah ini untuk konseling dengan konselor kami
Pertanyaan Jawaban Untuk mendapatkan jawaban terbaik bagi pertanyaan ini, kita akan melihat dua bagian yang luar biasa dalam Alkitab. Yang pertama di kitab Mazmur “Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” Mzm 10312. Salah satu cara paling efektif Setan untuk mempermainkan orang Kristen adalah dengan berusaha meyakinkannya kalau dosa-dosanya tidak benar-benar diampuni, yang merupakan penghinaan bagi Firman Allah. Jika kita benar-benar menerima dan beriman percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat, tapi masih memiliki kekhawatiran mengenai ada tidaknya pengampunan yang sejati, bisa jadi kita sedang diserang oleh Iblis. Iblis tidak suka ketika orang-orang dibebaskan dari cengkeraman mereka. Iblis akan selalu mencoba untuk menanam benih keragu-raguan dalam pikirannya mengenai realitas keselamatannya. Sebagai salah satu tipu daya Iblis , ia akan terus-menerus mengingatkan kita atas dosa masa lalu, yang ia gunakan untuk “membuktikan” bahwa Allah tidak mungkin mengampuni atau memulihkan kita. Serangan Iblis ini merupakan tantangan nyata bagi kita untuk sepenuhnya bersandar pada janji Allah dan percaya pada kasih-Nya. Mazmur bagian ini menyatakan kepada kita bahwa Allah tidak hanya mengampuni dosa kita, tapi juga menghapuskannya, sepenuhnya dari hadirat-Nya. Ini adalah hal yang sangat dalam artinya! Tak diragukan lagi, ini merupakan konsep yang sulit untuk kita pahami, sehingga sangat mudah bagi kita untuk merasa khawatir mengenai pengampunan kita, bukannya menerimanya saja. Kuncinya hanyalah dengan menyerahkan semua kekhawatiran dan perasaan bersalah kita; bersandar pada janji pengampunan-Nya. Bagian lainnya adalah 1 Yohanes 19, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Sebuah janji yang luar biasa! Allah mengampuni anak-anak-Nya saat mereka berdosa, tetapi hanya jika mereka datang kepada-Nya dengan sikap bertobat dan meminta agar diampuni. Belas kasih Allah begitu besar sehingga dapat menyucikan pendosa dari dosa-dosa mereka dan menjadikannya sebagai anak Allah, dan dengan demikian, karena begitu besarnya, bahkan saat kita tersandung, kita masih mendapatkan pengampunan. Dalam Matius 1821-22, kita membaca bahwa, “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ Yesus berkata kepadanya Bukan! Aku berkata kepadamu Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.’” Petrus mungkin berpikir bahwa dirinya sudah bermurah hari. Ketimbang melakukan pembalasan yang setimpal kepada orang yang berdosa kepadanya, Petrus malah memberikan kelonggaran kepada saudaranya, katakanlah, sebanyak tujuh kali. Namun pada kali kedelapan, mungkin Petrus merasa tidak perlu ada lagi pengampunan dan belas kasih. Namun, Yesus Kristus menantang pemikiran Petrus dengan menyatakan bahwa pengampunan itu tidak terbatas bagi mereka yang sungguh-sungguh mencarinya. Hal ini hanya dimungkinkan oleh karena belas kasih Allah yang tidak terbatas, yang dimungkinkan melalui curahan darah Kristus di kayu salib. Karena kuasa pengampunan Kristus, kita selalu dapat dikuduskan setelah berdosa, jika kita mencari pengampunan dengan kerendahan hati. Pada saat bersamaan, harus dicatat bahwa bukan hal yang alkitabiah bagi orang yang telah diselamatkan untuk terbiasa melakukan dosa dan menjadikannya sebagai gaya hidup 1 Yoh 38-9. Inilah sebabnya mengapa Paulus mengingatkan kita untuk “ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji” 2 Kor 135. Sebagai orang Kristen, kita bisa tersandung, namun tidak mungkin hidup dengan gaya hidup yang terus menerus melakukan dosa, tanpa ada pertobatan. Kita semua memiliki kelemahan dan dapat jatuh dalam dosa, bahkan pada saat kita tidak mau berdosa. Rasul Paulus juga melakukan “apa yang tidak ingin dia lakukan karena dosa yang ada dalam dagingnya” Rom 715. Seperti Paulus, respon orang-percaya seharusnya membenci dosa, bertobat darinya, dan meminta anugerah Allah untuk mengalahkannya Rom 724-25. Meskipun kita seharusnya tidak terjatuh karena anugerah Allah yang memampukan, terkadang kita terjatuh karena memilih bersandar pada kekuatan kita sendiri. Saat iman kita menjadi lemah dan menyangkal Allah dalam perkataan dan hidup kita, seperti yang dilakukan Petrus, tetap masih ada kesempatan untuk bertobat. Dosa-dosa kita tetap bisa diampuni. Tipu daya Setan yang lainnya adalah dengan membuat kita berpikir bahwa tidak ada pengharapan; bahwa tidak mungkin bagi kita untuk diampuni, disembuhkan, dan dipulihkan. Dia akan mencoba untuk membuat kita merasa terperangkap dengan rasa bersalah sehingga merasa tidak layak lagi untuk menerima pengampunan Allah. Namun, sejak kapan kita pernah layak atas anugerah Allah? Allah mengasihi kita, mengampuni kita dan memilih kita untuk hidup di dalam Kristus, bahkan sebelum dunia dijadikan Ef 14-6, bukan karena apa yang kita perbuat, namun “supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” Ef 112. Tidak ada tempat dimana kita bisa pergi yang tidak bisa dicapai oleh kasih Allah. Tidak ada tempat yg terlalu dalam, tempat di mana kita bisa tenggelam, sampai Allah tidak sanggup lagi mengangkat kita. Anugerah-Nya lebih besar dari pada dosa-dosa kita. Entah kita baru mulai memikirkan untuk berdosa atau sudah tenggelam dalam dosa, anugerah masih tersedia. Anugerah adalah karunia dari Allah Ef 28. Saat kita berdosa, Roh Kudus akan menginsyafkan kita dengan dukacita menurut kehendak Allah yang akan menghasilkan pertobatan 2 Kor 710-11. Dia tidak akan menghukum jiwa kita; membuat kita merasa seolah-olah tidak ada harapan, karena tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada dalam Kristus Rom 81. Keyakinan Roh Kudus dalam hati kita adalah gerakan kasih dan karunia. Kasih karunia bukanlah alasan untuk berdosa Rom 61-2. Jangan sampai disalahgunakan. Dosa tetap harus dinyatakan sebagai dosa, dan tidak dapat diperlakukan seolah-olah itu bukan hal yang berbahaya atau tidak mengganggu. Orang-percaya tanpa pertobatan perlu dihadapi dengan kasih dan dibimbing kepada kebebasan. Orang-tidak-percaya perlu untuk diberitakan Injil supaya mereka bertobat. Mari kita tegaskan cara memperbaikinya, karena kita telah menerima kasih karunia demi kasih karunia Yoh 116. Inilah bagaimana kita hidup, bagaimana kita diselamatkan, bagaimana kita dikuduskan, dan bagaimana kita dipelihara dan dimuliakan. Ketika berdosa, mari kita menerima kasih karunia dengan cara bertobat dan mengaku dosa kita kepada Allah. Mengapa kita hidup dalam kecemaran saat Kristus menawarkan untuk membersihkan kita, dengan memenuhi dan membenarkan kita di mata Allah? English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Akankah Allah terus-menerus mengampuni Saudara jika terus-menerus melakukan dosa yang sama, lagi dan lagi?
MATIUS 1821-35 APAKAH MENGAMPUNI SAMPAI TUJUH KALI SUDAH CUKUP? PERUMPAMAAN TENTANG BUDAK YANG TIDAK BERBELASKASIHAN Yesus baru saja memberi tahu para rasulnya bahwa jika mereka punya masalah dengan saudara seiman, mereka harus berusaha menyelesaikannya secara pribadi. Tapi, Petrus ingin tahu sampai berapa kali dia harus melakukannya. Petrus bertanya, ”Tuan, kalau saudaraku berdosa kepadaku, berapa kali aku harus mengampuni dia? Sampai tujuh kali?” Beberapa pemimpin agama mengajarkan bahwa seseorang perlu mengampuni sampai tiga kali. Jadi, Petrus mungkin merasa bahwa dia sudah sangat baik kalau dia mengampuni ”sampai tujuh kali”.​—Matius 1821. Tapi, Yesus tidak ingin para pengikutnya menghitung kesalahan orang lain. Jadi Yesus mengoreksi Petrus, ”Aku katakan kepadamu, bukan sampai tujuh kali, tapi sampai 77 kali.” Matius 1822 Maksudnya, pengampunan itu tidak ada batasnya. Yesus kemudian memberikan sebuah perumpamaan untuk mengajarkan pentingnya mengampuni. Ini tentang seorang budak yang tidak meniru raja yang berbelaskasihan. Seorang raja mengadakan perhitungan dengan budak-budaknya. Dia memanggil seorang budak yang berutang sangat besar. Budak itu punya utang sebesar talenta [60 juta dinar]. Dia tidak mungkin sanggup melunasi utangnya. Jadi sang raja menyuruh agar dia, istrinya, dan anak-anaknya dijual untuk membayar utangnya. Budak itu pun sujud dan memohon, ”Sabarlah kepada saya. Saya akan melunasi semuanya.”​—Matius 1826. Sang raja merasa kasihan, dan dia pun menghapus utang budak itu. Ketika budak itu keluar, dia bertemu dengan temannya yang berutang 100 dinar kepadanya. Dia menarik temannya itu dan mencekiknya sambil berkata, ”Bayar utangmu.” Temannya itu sujud dan memohon, ”Sabarlah kepada saya. Saya akan lunasi utang saya.” Matius 1828, 29 Namun, budak yang sudah diampuni utangnya itu tidak meniru sang raja. Dia malah menyuruh agar temannya itu, yang utangnya tidak seberapa, dipenjarakan sampai bisa membayar utangnya. Budak-budak lain melihat tindakan budak jahat itu dan melaporkannya kepada sang raja. Raja itu sangat marah. Dia memanggil budak itu dan berkata, ”Budak yang jahat, saya menghapus semua utangmu saat kamu memohon-mohon kepada saya. Bukankah kamu seharusnya juga mengasihani sesama budak itu, seperti saya mengasihani kamu?” Raja itu lalu menjebloskan budak yang jahat itu ke penjara sampai dia bisa membayar utangnya. Yesus menyimpulkan, ”Bapakku yang di surga juga akan memperlakukan kalian seperti itu kalau kalian masing-masing tidak mengampuni saudara kalian dari hati.”​—Matius 1832-35. Perumpamaan itu mengajarkan pentingnya mengampuni! Allah telah mengampuni dosa kita, yang seperti utang yang sangat besar. Dibandingkan dengan hal itu, kesalahan apa pun yang dilakukan saudara kita terhadap kita tidak ada apa-apanya. Dan Yehuwa mengampuni kita bukan hanya sekali, tapi beribu-ribu kali. Jadi, bukankah kita seharusnya terus mengampuni saudara kita, bahkan jika dia menyakiti kita? Seperti yang Yesus katakan dalam Khotbah di Gunung, Allah akan mengampuni dosa kita jika kita sudah mengampuni orang lain.​—Matius 612.
Jawaban Alkitab Mengampuni adalah tindakan memaafkan orang yang bersalah. Dalam Alkitab, kata Yunani yang diterjemahkan ”mengampuni” berarti ”merelakan”. Ini sama seperti orang yang tidak menuntut orang lain membayar utangnya. Yesus menggunakan perbandingan ini sewaktu mengajar pengikutnya untuk berdoa, ”Ampunilah kami atas dosa-dosa kami, karena kami sendiri juga mengampuni setiap orang yang berdosa, yang disamakan dengan orang yang berutang kepada kami.” Lukas 114 Sewaktu menggunakan perumpamaan tentang budak yang kejam, Yesus juga menyamakan mengampuni seperti menganggap lunas utang seseorang.—Matius 1823-35. Mengampuni orang lain berarti kita tidak kesal lagi kepadanya dan tidak meminta ganti rugi atas kesalahannya. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus benar-benar menyayangi seseorang agar bisa mengampuninya, karena kasih ”tidak mencatat kerugian”.—1 Korintus 134, 5. Mengampuni tidak berarti Menyetujui perbuatan salah. Malah, Alkitab sangat tidak setuju dengan orang yang menganggap perbuatan buruk itu sebagai hal yang sepele atau tidak salah.—Yesaya 520. Menganggap kesalahan itu tidak pernah terjadi. Allah memang mengampuni dosa besar Raja Daud, tapi Dia tidak menganggap kesalahan itu tidak ada. Jadi, Daud harus tetap menanggung akibat dosanya. Allah bahkan membiarkan dosa-dosanya dicatat dalam Alkitab supaya kita bisa belajar darinya.—2 Samuel 129-13. Membiarkan orang lain memanfaatkan kita. Misalnya, kita meminjamkan uang kepada seseorang. Tapi dia menyalahgunakannya dan tidak bisa membayarnya kembali. Dia sangat menyesal dan meminta maaf kepada kita. Kita bisa mengampuninya dengan tidak lagi merasa kesal dan tidak mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Bahkan, kita bisa menganggap lunas utangnya. Meski begitu, kita juga bisa memilih untuk tidak lagi meminjamkan uang kepadanya.—Mazmur 3721; Amsal 1415; 223; Galatia 67. Asal memaafkan. Allah tidak mengampuni orang yang sengaja melakukan kesalahan lalu tidak mau mengakui kesalahannya, tidak bertobat, dan tidak meminta maaf kepada orang yang disakitinya. Amsal 2813; Kisah 2620; Ibrani 1026 Orang yang tidak mau bertobat adalah musuh Allah. Dan Allah tidak mengharuskan kita untuk memaafkan orang seperti itu.—Mazmur 13921, 22. Bagaimana jika seseorang sangat menyakiti kita dan tidak mau meminta maaf atau bahkan mengakui kesalahannya? Alkitab menasihati, ”Jauhilah kemarahan dan tinggalkan kemurkaan.” Mazmur 378 Meskipun kita tidak suka dengan perbuatannya, jangan sampai kita meledak dalam kemarahan. Yakinlah Allah akan membalasnya. Ibrani 1030, 31 Kita juga tidak perlu khawatir karena di masa depan Allah akan menghapus rasa sakit hati yang mungkin masih kita rasakan sekarang.—Yesaya 6517; Penyingkapan 214. ”Memaafkan” setiap hal kecil yang mungkin menyinggung perasaan kita. Daripada memaafkan orang yang kita pikir bersalah terhadap kita, kadang lebih baik kita mengakui bahwa mungkin kita yang terlalu cepat tersinggung. Alkitab berkata, ”Janganlah rohmu cepat tersinggung, karena perasaan tersinggung menetap dalam dada orang-orang bebal.”—Pengkhotbah 79. Cara mengampuni Pikirkan apa artinya mengampuni. Kalau kita mengampuni, bukan berarti kita menyetujui perbuatan salah atau menganggapnya tidak pernah terjadi. Kita hanya tidak mau mengingat-ingatnya lagi. Pikirkan manfaat mengampuni. Kalau kita tidak memendam kemarahan dan kekesalan, kita bisa tetap tenang, lebih sehat, dan lebih bahagia. Amsal 1430; Matius 59 Dan yang lebih penting, kalau kita mengampuni orang lain, Allah juga akan mengampuni kita.—Matius 614, 15. Miliki sikap seperasaan. Tidak ada orang yang sempurna. Yakobus 32 Sewaktu kita membuat kesalahan dan orang lain mengampuni kita, kita pasti merasa lega. Jadi, kita juga seharusnya mau mengampuni orang lain.—Matius 712. Bersikap masuk akal. Kalau ada hal kecil yang membuat kita tersinggung, kita bisa mengikuti nasihat Alkitab, ”Teruslah bersabar seorang terhadap yang lain.”—Kolose 313. Cepat bertindak. Ampunilah orang lain secepatnya sebelum kemarahan kita bertambah besar.—Efesus 426, 27.
apa artinya mengampuni seperti allah telah melakukannya untuk kita